Riska Kusuma Wardhani
 

remorse noun \ri -' mors\
Definition:
1) A gnawing distress arising from a sense of guilt for past wrongs.
2) Obsolete.

I wonder what kind of deity that I've pissed off so much to make me experience this turmoil. Is that You, God?

Remember the news about Kodak, a pioneer of camera industry that goes bankrupt back in the beginning of March? While I acknowledge that indeed, even a well-established, giant corporation can break down into tiny pieces, I never imagine that the same situation will happen to company I'm working for. Alas the reality has a cruel sense of humor to reveal the opposite. Today I receive a grave news from an illicit but accurate grapevine of how the company tries to be efficient by cutting down the number of employees, electricity and holding back some staffs and interns' salaries for three consecutive months! Somehow this news makes all nightmares that I've ever experienced in the current lifetime seem pale in comparison. After doing some digging and sniffing around, I think the blame can be put on numerous ludicrous projects that the holding company currently invests its fund into -- projects that only few investors are interested to know more simply because of the projects' size.

Yet the news isn't that unexpected. I should've known that it will come to this, what's with employees' whispers about efficiency and salary cut. The fact that some old employees resign on this March. I'm just being blind to see the surface, too lazy to connect the dots and too optimist to believe the recession rumors. Look where such attitudes get me now. 

And so I feel remorseful.
Labels: , , 0 comments | edit post
Reactions: 
Riska Kusuma Wardhani
Lega karena sudah tidak perlu deg-degan lagi menanti pengumuman pemenang. Ini kalah dalam hal Lomba Blog AXIS ya, kalau soal MDP OCBC NISP memang belum ada kabar (baru pagi hari ini juga tesnya). Saya sudah buka satu persatu artikel blog yang menang dan memang... Whoa! Bukan hanya unik, mereka juga sangat niat dalam mengemas ide-ide baru bertemakan 'Eksis dengan Internet'. Saya salut dengan kreativitas mereka. Selamat!

Lalu, apa yang akan saya lakukan selanjutnya? Tentu saja ikut lomba blog yang lainnya. Memang saya sudah berkali-kali kalah dalam perlombaan semacam ini, namun berhubung saya sudah keburu kecanduan, mau berhenti juga susah. Apalagi kalau hadiahnya iPad, siapa yang tidak mau? Lomba ini tidak memungut biaya pendaftaran pula, hanya dengan modal blog pribadi dan pemenuhan syarat tertentu siapa saja dari berbagai kalangan bisa ikut serta.

Sekarang saya sangat bersemangat untuk mengikuti lomba blog dari Sari Husada yang deadline-nya sangat mepet sekali yaitu besok. Saya mendapatkan informasi lomba ini dari adik kelas saya Brian sejak bulan Februari lalu, namun baru memprosesnya sekarang. Semoga masih sempat, dan semoga saya menang kali ini!

Monggo kalau para pembaca sekalian mau ikutan :D
Riska Kusuma Wardhani
Kali ini artikel blog yang saya tulis akan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, karena katanya (kata teman saya pada tepatnya) penulisan sesuatu yang tidak menggunakan bahasa Indonesia itu merupakan tindakan yang tidak nasionalis. Saya sebenarnya sangat tidak setuju dengan pernyataan teman tersebut, tapi daripada terus menjadi bahan omongan ya sudahlah, langsung saja saya buktikan jiwa nasionalis saya melalui artikel blog ini.


Yang menjadi objek artikel pada hari ini merupakan pengalaman saya dalam menjalani psikotes MDP OCBC NISP. Saya pertama mengetahui lowongan MDP dari Jobstreet, dimana setelah melihat daftar kualifikasi yang sepertinya masih bisa dipenuhi, akhirnya iseng-iseng menekan tombol 'Apply Job'. Namanya iseng, saya pun tidak menaruh harapan banyak saat memasukkan lamaran. Toh saya memang belum lulus (skripsi saja belum disentuh) dan masih magang di suatu perusahaan swasta. Namun Allah berkehendak lain, tiba-tiba kemarin saya mendapatkan SMS dari OCBC NISP yang isinya mengabarkan bahwa saya diundang untuk mengikuti tes MDP pada tanggal 14 Maret 2012 pukul 10.00 WIB di Tower OCBC NISP Lt. 22 Jl. Prof. Dr. Satrio 25.

Kalau boleh jujur, bukannya senang, saya malah panik waktu itu. Wajar saja, secara SMS pemberitahuan itu baru datang kurang dari 24 jam dari waktu tes, tepatnya pukul 3 sore. Saya benar-benar tidak siap! Apalagi dalam SMS itu juga disebutkan bahwa saya harus membawa CV lengkap dan spidol whiteboard saat tes. Wah, CV belum saya perbaharui sama sekali. Spidol whiteboard juga saya tidak punya, mau beli juga sedang bokek.

Saya akhirnya konsultasi ke teman di tempat magang yang tergabung dalam program MT. Teman saya itu di luar dugaan justru menyemangati saya dan dengan senang hati meminjamkan sebuah spidol whiteboard warna hitam kepada saya! Wah, hambatan yang tersisa tinggal CV, namun justru item satu itulah yang paling ribet. Saya ini kalau membuat CV bisa menghabiskan waktu sampai 3 jam, kebanyakan gara-gara sibuk cari template, color, dan font yang tepat. Belum lagi di tengah-tengah saya pasti nyambi mendengarkan musik dan main game yang kalau keterusan bahkan bisa membuat waktu pembuatan CV molor hingga 6 jam (kisah nyata). Masalah ngeprint di mana juga membuat saya semakin malas.

Kemarin akhirnya saya sempat memutuskan untuk mundur, tidak mengikuti tes tersebut. Namun entah mengapa pada pukul 9 malam saya mendapatkan suntikan semangat untuk merevisi CV saya sehingga waktu itu tak sampai 5 menit laptop sudah menyala dan saya sudah acang-ancang membuka Microsoft Publisher. Dan entah mengapa pula, saya yang orangnya termasuk kategori short attention span (mudah terpengaruh oleh hal-hal lain) bisa fokus dalam merevisi hingga sekitar pukul setengah 12 malam CV terbaru saya sudah jadi. Hasilnya memang tidak sempurna, tapi setidaknya lebih bagus dari CV yang lama.

Selesai? Tidak, malamnya saya dilanda masalah baru: tidak bisa tidur. Penyebabnya ya selain nervous, saya juga sangat menantikan pengumuman pemenang Lomba Blog Axis. Jujur saya menaruh harapan yang sangat (atau bahkan terlalu) tinggi pada lomba itu, karena hadiahnya sangat menggiurkan. Sudah berkali-kali saya memimpikan bisa menenteng iPad atau Galaxy Tab yang dibeli dengan uang sendiri atau diperoleh melalui usaha sendiri. Di satu sisi saya juga sadar kalau artikel saya kurang berbobot, karena memang ditulis dalam kurun waktu kurang dari 2 jam gara-gara sinyal internet yang sempat kacau. (Bahkan sambil menulis artikel ini saya juga masih harap-harap cemas karena hingga jam segini pengumuman itu tak kunjung tiba).

Akhirnya setelah guling-guling tanpa tujuan selama kurang lebih satu jam, saya bisa tidur. Eh paginya ada lagi masalah. Saya terbangun pukul 4 pagi dengan perut yang mulas minta ampun. Badan juga sedikit panas, sepertinya karena masuk angin. Semakin tipis saja motivasi saya untuk ikut tes. Ujung-ujungnya setelah urusan perut beres, saya memutuskan untuk kembali tidur sampai pukul 8 pagi. Waktu saya mau mandi pun ada lagi masalah: ada anak kos yang mencuci baju di kamar mandi! Motivasi saya kian ciut. Mulai terbayang pikiran skeptis seperti 'Ah saingan kamu banyak, kemungkinan untuk diterima pasti tipis.', 'Buat apa dikejar? toh kamu tidak suka kerja di industri perbankan, takut stress', dan 'Tugas di tempat magang masih banyak lho, kamu harus selesaikan itu dulu.'. Saya pun sempat konsultasi ke Tia, dan dia sendiri juga menyarankan untuk tidak usah ikut saja kalau memang tidak siap. Toh masih ada kesempatan yang lain.

Pada pukul 9 pagi teng saya akhirnya baru selesai mandi dan setengah jam kemudian berangkat ke kantor. Saat itu saya sudah bertekad bulat untuk tidak mengikuti tes MDP. Eh sesampainya di kantor ternyata user saya pada belum datang dan teman magang saya juga sampai 'detik terakhir' (seingat saya sudah pukul 09.50 WIB waktu itu) memotivasi saya untuk ikut tes. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke Tower OCBC NISP via ojek setelah mencetak CV dan transkrip akademik via printer kantor yang kualitas tintanya yahud.

Dan... masalah demi masalah kian menghampiri. Jalanan macet sekali dan sopir ojek saya tidak tahu Tower OCBC NISP itu di mana! Haduh nyaris pupus semangat saya saat itu. Saya bahkan sudah siap-siap untuk bilang ke sopir ojek untuk putar balik, namun tiba-tiba saja sang sopir menawarkan diri untuk tanya-tanya ke satpam gedung sekitar Jl. Dr. Satrio. Satpam gedung pertama... tidak tahu. Wah saya mau nangis saja saat itu. Eh setelah tanya ke satpam gedung kedua, saya dan sopir ojek akhirnya tahu bahwa Tower OCBC NISP ternyata terletak di sebelah Mal Ambasador persis!

Sesampainya di Tower, saya melirik arloji yang saya kenakan. Jam sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB, telat 30 menit dari jadwal tes. Saya sudah pesimis masih bisa ikut tes (secara terlambat), namun mengingat saya sudah susah-susah revisi CV dan nyasar ke mana-mana demi tes tersebut akhirnya dengan cuek saya naik lift ke tempat tes di lantai 22.

Saya tidak tahu ini termasuk mukjizat atau bukan, karena waktu saya sampai di lantai 22 tes utuk gelombang pukul 10.00 WIB belum dimulai! Saya malah sempat berbincang lama dengan Beta, lulusan Ilkom Unpad yang sudah lulus pada tahun 2011. Berbeda dengan saya, dia mendapat pemberitahuan via telepon dan malah tidak disuruh untuk membawa CV dan spidol. Saya sempat bertanya-tanya apakah ia memasukkan lamaran ke program berbeda, namun dijawab tidak. Sampai sekarang setelah tes saya masih penasaran kenapa sistem pemberitahuan untuk program yang sama (MDP) bisa berbeda, begitu pula sistem tesnya (si Beta ini tidak ikut tes bersama saya, sepertinya dia langsung interview padahal belum pernah ikut psikotes).

Mendekati pukul 10.45 WIB, pintu ruang tes dibuka dan saya bersama teman-teman gelombang pukul 10.00 WIB dipersilakan untuk masuk dan menempati kursi di barisan depan. Setelah perkenalan dan pembacaan instruksi, tes pun dimulai. Dan di luar dugaan, psikotes yang diberikan ternyata cukup standar sehingga saya bisa mengerjakannya dengan cukup lancar. Hambatan berarti datang dari tes rotasi R (saya tidak tahu nama resminya) dan tes selisih yang terjauh, tapi itu terjadi lebih karena saya salah memahami instruksi bukan karena bentuk soal yang susah. Satu hal yang saya senangi dari psikotes ini: tidak ada tes Pauli! Hal yang cukup aneh sebenarnya karena saat kemarin saya 'kepo-kepo' via internet kantor ada yang bilang di Kaskus kalau psikotesnya mencakup tes Pauli.

Sekitar dua jam kemudian psikotes pun usai, dan karyawan dari bagian Human Capital pun menginformasikan bahwa jika ada di antara kami yang lolos ke tahap berikutnya (FGD), ia akan mendapatkan pemberitahuan via telepon dalam kurun waktu dua minggu ke depan. Saya antara berharap iya dan tidak mendengarnya: di satu sisi saya ingin lolos untuk menambah pengalaman, melatih skill, dan tentunya mendapat pekerjaan; namun di sisi lain saya masih berpegang teguh pada pendirian saya untuk tidak bekerja di industri perbankan. Mari kita lihat ke depannya nasib saya akan seperti apa...

Beberapa catatan buat yang berencana apply program MDP OCBC NISP ini:

1) Barang yang harus dibawa.
Sesuaikan dengan pesan penelpon atau pengirim SMS. Kalau mereka meminta kita untuk membawa spidol whiteboard dan CV, ya bawa saja, jangan sampai kelupaan. FYI spidol whiteboard ini gunanya untuk menghitamkan buletan di lembar jawab psikotes (menghemat waktu daripada pakai pensil) sedangkan CV ya untuk database perusahaan. Khusus untuk yang ditelpon, jangan sampai lupa dalam menanyakan nama penelpon jadi seandainya kalian tidak dipanggil-panggil juga saat sudah berada di tempat tes, kalian tahu mesti menghubungi atau komplen ke siapa.

2) Lokasi.
Jangan indahkan nama jalan saat meluncur ke tempat tes karena banyak orang yang tidak tahu. Tukang ojek pun sering bingung. Gampangnya simak peta sederhana berikut yang saya bikin asal-asalan pakai Paint:



Nah dari peta itu jelas terlihat kalau lokasi tesnya itu sebenarnya cukup strategis, bersebelahan langsung dengan Mal Ambasador. Kalau kalian berasal dari luar Jakarta yang masih buta jalan dan ingin hemat ongkos, setibanya di stasiun, terminal, atau airport silakan naik busway ke arah Kuningan dan stop di halte GOR Soemantri Brodjonegoro. Dari halte tersebut silakan nyebrang ke arah Pedurenan dan jalan ke arah pintu belakang Mal Ambasador (silakan belok kiri di di depan tempat fotokopi bernama Djinggo, belok kanan di belokan pertama, jalan lurus sampai nemu belokan lagi, lalu belok kiri dan jalan lurus lagi sampai ke deretan warung-warung. Dari sana silakan belok kiri sampai nemu jalan kecil di antara Mal Ambasador dan gedung tinggi bercat abu-abu. Telusuri jalan itu ke depan, gedung bercat abu-abu itu tempat tesnya). Durasi perjalanan sekitar 15 menit. Bisa juga kalian naik angkot 44 untuk turun di seberang Mal Ambasador, tapi karena daerah tersebut termasuk daerah macet, kalau waktunya sudah mepet lebih baik jangan. Mending naik ojek saja, dari Pasar Festival biasanya cuma 10 - 15 ribu.

3) Bahan Tes.
Bahan tes untuk seleksi pertama ini adalah serangkaian psikotes yang menguji nalar dan logika. Saya lupa tesnya apa saja (yang jelas cukup standar dan tidak ada tes Pauli, terima kasih ya Allah!), yang jelas saya sempat menemui hambatan saat mengerjakan tes rotasi R dan selisih terjauh. Sebenarnya itu lebih karena kurang pemahaman atas petunjuk soal buka karena tidak bisa. Saran saya, jika masih bingung, sebelum tes dimulai silakan bertanya kepada orang Human Capital (HC) yang mengadakan tes untuk mendapatkan penjelasan tambahan. Tidak ada pengurangan nilai karena bertanya kok, asal jangan berlebihan juga tanyanya.

Waktu tes secara keseluruhan adalah sekitar 2 jam, dan karena soalnya banyak dan membutuhkan konsentrasi, sebelum ikut tes jangan lupa untuk tidur yang cukup dan sarapan. Adapun peserta yang lolos psikotes ini jika lolos ke tahap berikutnya akan dihubungi oleh pihak HC selambat-lambatnya dua minggu dari waktu tes.

4) Prosedur.
Supaya tidak kelihatan seperti orang bingung saat memasuki lokasi tes yang cukup wah menurut saya, simak prosedur berikut:
- Masuk ke tower via pintu otomatis lalu lewati metal detector setelah menyerahkan tas kepada satpam untuk diperiksa.
- Jalan ke tempat resepsionis di tengah gedung untuk menukar KTP atau KTM dengan kartu visitor.
- Kenakan kartu visitor dan silakan naik lift ke lantai 22.
- Keluar lift silakan tanya ke satpam soal program MDP. Nanti Anda akan diminta untuk menunggu (sambil duduk ya bukan berdiri) di depan tempat tes.
- Tunggu sampai orang HC memanggil kalian (peserta seleksi MDP) untuk masuk ke tempat tes.

Berdasarkan hasil kepo-kepo yang saya dapatkan dari Kaskus, katanya program MDP ini diadakan dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan April dan bulan September. Tesnya dimulai pada bulan Februari - Maret dan bulan Juli - Agustus. Jadi untuk yang belum sempat apply bulan ini, silakan siapkan CV dari sekarang untuk apply di bulan Juli. Good luck!

P.S.: Saya lolos ke tahap FGD. Detail lengkap mengenai tahap tersebut akan saya share di artikel berikutnya!